Kamis, 15 Maret 2012

Orientasi Pekerja baru


program orientasi yang tidak saja diarahkan pada hal-hal yang sifatnya pemahaman gambaran umum perusahaan. Dalam hal ini program orientasi yang diberikan berkait erat dengan jenis pekerjaan, teknik-teknik dasar pekerjaan, dan posisinya di perusahaan.  Program orientasi berbasis kompetensi ini bertujuan; pertama adalah agar para pendatang baru itu lebih mengenal dan memahami kondisi perusahaan seperti tentang visi, misi, tujuan, kebijakan, strategi, sejarah dan perkembangan kinerja perusahaan, masalah-masalah yang dihadapi perusahaan, jenis-jenis pekerjaan, dsb. Kedua, meningkatkan pemahaman dan ketrampilan awal teknik-teknik dasar pelaksanaan pekerjaan. Ketiga, mengurangi kecemasan  karyawan baru dalam memulai pekerjaannya dan sudah siap untuk memasuki dunia kerja. Keempat, secara bertahap para karyawan baru diharapkan semakin terbiasa untuk melakukan kerjasama efektif dengan rekan-rekan kerja yang baru dan yang senior.

Untuk mencapai tujuan orientasi maka perusahaan perlu melakukan pemantauan dan analisis perubahan perilaku karyawan baru selama program orientasi berlangsung. Misalnya pemantauan untuk praorientasi, beberapa tahapan yang perlu dilakukan perusahaan meliputi. Pertama, karyawan baru biasanya dikumpulkan dalam sebuah ruangan; mereka dengan segera diminta untuk mengisi formulir tentang perusahaan dan manfaat yang mungkin mereka dapatkan. Kedua, kemudian formulir dikumpulkan untuk dianalisis oleh departemen SDM yang menyangkut pendapat dan persepsi tentang perusahaan dimana mereka bekerja. Ketiga, setelah itu para karyawan sesuai dengan bidang pekerjaannya mulai memperoleh instruksi-instruksi awal apa yang harus dilakukan mereka oleh penyelia. Kemudian barulah mereka memasuki tahap orientasi secara penuh.

Selama praorientasi, ketika mereka di ruangan,  sudah mulai terlihat beragam perilaku karyawan baru. Ada yang berkelompok kecil berbicara satu dengan lainnya; ada yang berada dekat dengan karyawan lama, dan ada yang duduk-duduk sedang serius mempelajari apa yang seharusnya secara riil untuk dilaksanakan. Hampir sehari penuh karyawan baru melakukan praorientasi pekerjaan. Kemudian bisa jadi esok harinya mereka sudah mulai diminta pendapatnya tentang perusahaan dan khususnya tentang pekerjaan yang akan dijalaninya. Lalu mereka dikumpulkan lagi di sebuah ruangan untuk membahas segala sesuatu yang terkait  pada pekerjaannya. Di situ, terjadi umpan balik dan hasilnya dipakai perusahaan untuk membuat lingkungan kerja menjadi kondusif. Apabila di analisis, maka fenomena yang mungkin bakal terjadi pada karyawan baru antara lain ada yang masih belum jelas sepenuhnya tentang prospek perusahaan, jenis pekerjaan, dan teknik-teknik dasar pelaksanaan pekerjaan, dan sebaliknya bisa jadi sudah ada yang merasa jelas dan puas.

Di dalam prakteknya, lamanya program orientasi akan beragam, baik ditinjau dari jenisnya maupun lamanya orientasi. Diawali praorientasi, ada orientasi sampai makan waktu beberapa hari saja, tetapi ada yang sampai mingguan bahkan ada yang sampai tiga bulanan. Hal demikian sangat terkait dengan derajat kompleksitas jenis pekerjaan dan kualifikasi karyawan. Jika dilakukan pada jenis pekerjaan yang sama, hal ini akan berpengaruh terhadap derajat perputaran dan produktivitas karyawan. Dari beberapa pengamatan empirik, ada pengaruh lamanya program orientasi terhadap derajat perputaran dan produktivitas karyawan. Lamanya orientasi berlangsung sedemikian rupa sejalan dengan faktor-faktor lainnya, seperti penyeliaan, kebijakan, dan tingkat gaji atau katakanlah sejalan dengan unsur-unsur pelayanan perusahaan, termasuk pengembangan iklim kerja. Dengan kata lain, orientasi yang semakin lama sampai batas standar waktu tertentu akan menunjukkan perputaran karyawan yang lebih rendah dan  produktivitas kerja yang semakin tinggi ceteris paribus. Dalam hal ini kualifikasi karyawan, jenis pekerjaan, dan karakter perusahaan dianggap tetap dan walaupun karyawan baru sudah berhasil melalui proses rekrutmen dan seleksi yang ketat, mereka masih saja merasa ragu bahkan cemas tentang kemampuan untuk bersosialisasi di perusahaan dimana mereka akan bekerja. Pasalnya karena  baru memasuki dunia kehidupan baru dan asing. Dari dunia pendidikan yang hidupnya dinafkahi orang tua atau kerabatnya bergeser ke dunia mencari nafkah sendiri. Bisa dibayangkan, perubahan sisi kehidupan itu akan membuat para karyawan baru bertanya-tanya dalam hati seperti apakah saya bisa bekerja dengan baik; bagaimanakah agar saya menjadi karyawan harapan perusahaan; apakah saya bisa diterima dalam pergaulan di tengah-tengah karyawan senior; bagaimana saya mampu memperkecil rasa gugup untuk mulai bekerja; dsb.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar